Posted in europe, photo, trip

Little bit taste of Europe – Flying to Paris

Mendengar berita tentang Paris akhir-akhir ini sempat mengurungkan niat saya untuk posting perjalanan singkat saya ke Paris awal tahun 2015 kemarin, dimana waktu itu masih cukup hangat berita mengenai penembakan Charlie Hebdo. Sebelum memutuskan untuk pergi ke Paris, saya dan teman sekamar saya waktu di Spain sempat mempertimbangkan masalah keamanan kami apabila jadi pergi ke sana (keraguan kami dipicu dengan busana kami sehari-hari yang memperlihatkan dengan jelas bahwa kami seorang muslim). Mungkin sedikit cerita saya di sini akan bisa menggambarkan seperti apa Paris saat itu.

Yeah!! It’s time to fly to Paris. Like what everyone dream when coming to Europe, Paris is a must!

IMG_0740

But can I say the opposite?? This is how the story goes…

Berawal dari keinginan yang amat sangat dari teman sekamar saya (bahkan sebelum sampai di Spain, sudah kami rencanakan jadwal short trip kami tiap weekend di sana)… Okey, let’s fly to Paris and find some cheap tickets! jadilah kami cari-cari rute termurah dan efisian untuk sampai ke Paris dengan titik awal Sant Feliu De Guixols, kantor kami berada (seakan-akan kami berada paling jauh di ujung Eropa).

Jadilah kami memutuskan naik pesawat Low-cost carrier versi Eropa yaitu maskapai Vueling untuk berangkat (Barcelona-Paris) dan EasyJet untuk kembali lagi (Paris-Barcelona). Tiket kami pesan 1 minggu sebelum keberangkatan. Harga tiket untuk PP Barcelona-Paris kami dapat sekitar 80€. Seandainya kami memesan lebih cepat, mungkin cukup mengeluarkan 40€ PP (it’s very cheap for Europe!!!).

1426312994691

Back to the story….

Karena jadwal penerbangan yang kami pilih adalah hari Sabtu jam 07.00 pagi waktu setempat (14 Maret 2015), maka tidak ada pilihan lain selain menginap di Barcelona-ElPrat airport. Peserta trip kali ini ada 7 orang. Lagi-lagi saya dan Sekar adalah the only girls who planned everything before our departure, including booked the tickets and prepared the itinerary (but most done by Sekar – our trusted travel agent hehe).

Hari Jumat setelah pulang kantor, kami mengejar bus Sarfa terakhir menuju Barcelona Estacio del Nord. Kami mempersiapkan segala sesuatunya untuk  menginap di bandara dan mengantisipasi suhu yang lebih dingin saat di Paris (waktu itu Sant Feliu sudah menghangat dan cukup terasa akan memasuki musim semi dengan suhu belasan derajat celcius, tetapi daerah Eropa yang lebih utara masih di bawah 10 derajat).

Sampai di Barcelona sekitar jam setengah 9 malam kami menyempatkan untuk makan malam di restoran masakan Indonesia (restaurant Betawi) yang sudah sempat saya datangi sebelumnya di daerah La Rambla. We ordered so many food and taste the Indonesian once again–ahhh we did really miss that taste.

IMG-20150313-WA0002
Credit photo from wa sent by Endi – Nelvan & Agung went to Rome with the same schedule

Selesai makan malam, kami menaiki shuttle bus Aerobus yang memang khusus rute ke bandara, berangkat dari La Rambla Barcelona (Platja Catalunya) sekitar jam 11 malam. Jadwal terakhir bus ke bandara tersebut adalah jam 1 malam. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit sampai akhirnya tiba di terminal T1. Keadaan bandara cukup sepi dan terlihat banyak juga yang menginap di bandara malam itu. Kami ber-7 memilih kursi yang cukup longgar untuk dijadikan tempat tidur. Di depan kami sekitar jarak beberapa baris kursi terlihat orang yang sedang tiduran beralaskan sajadah (ahhh… I think he is a moslem traveler), dan di pojokan-pojokan lain, pemandangan orang sedang tidur di kursi tidak begitu mengherankan, mengingat Eropa adalah salah satu tujuan favorit para backpacker dunia.

Beruntungnya kami karena di dalam bandara ternyata cukup hangat. Tetapi malam itu saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kursi yang tidak cukup nyaman untuk tiduran serta jam 4 pagi kami semua dibangunkan beberapa petugas bandara dengan wajah yang cukup galak. Aturan di bandara Barcelona ini memang mengharuskan orang-orang yang menunggu penerbangan pagi dan menginap di bandara bangun pada pukul 4 pagi. Apabila ada yang ketahuan tidur lagi, para petugas tidak bosan-bosannya akan menghampiri karena ada patroli setiap saat 🙂

DSC_0452
Menunggu boarding pesawat menuju Paris (Gate B24-Barcelona El Prat)

Waktu 2 jam selama perjalanan ke Paris saya usahakan untuk tidur. Tibalah kami akhirnya di Charles de Gaulle Airport Paris dengan sambutan angin dan udara yang cukup membuat kami menggigil (below 5°C plus angin itu rasanya…. lebih dari masuk freezer!!!). But still can’t believe i was really in Paris. Mulailah 1 day trip kami dengan mempelajari peta serta rute metro untuk menuju ke tempat-tempat sesuai itinerary. Bandara kami tidak berada di tengah kota Paris, tetapi ada di pinggir kota. Ada pilihan transportasi menuju downtown Paris yaitu dengan kereta atau bus. Kami memutuskan naik kereta yang khusus untuk tujuan bandara-Paris dan berhenti di Gare du Nord, salah satu stasiun metro dan kereta SNFC yang sangat sibuk. Di sini saya melihat banyak sekali warga Paris yang sangat beragam etnis dan tidak sedikit wanita yang berhijab. Tidak mengherankan karena Prancis adalah negara yang cukup terbuka untuk imigran. dari Afrika atau Timur Tengah. Hanya saja dilihat dari stasiun dan sepanjang jalan di kereta dari bandara, saya tidak menyangka Paris tidak sebersih dan serapih yang saya bayangkan seperti halnya di Barcelona.

Rasa lapar membuat kami menemukan satu resto tepat di depan Gare du Nord. Iseng saya dan teman-teman pesan croissant di situ dan sangat terkesan karena rasanya yang begitu lezat (croissant paling enak yang pernah saya coba selama di Eropa). Tetapi perjalanan harus dilanjutkan karena jadwal sudah cukup melenceng jauh dari plan awal. Kami pun membeli tiket metro yang bisa digunakan seharian penuh khusus weekend tanpa batas untuk zona tertentu sesuai itinerary kami.

Tujuan pertama adalah Sacré-Cœur, sebuah gereja yang letaknya cukup tinggi. Kami harus bersusah payah menaiki puluhan anak tangga untuk sampai ke tujuan (rencana yang salah kalau tempat ini jadi tujuan awal karena membuat kami kelelahan sebelum sampai di tujuan selanjutnya haha…). Banyak sekali turis di sini dan tidak menyangka banyak orang (sepertinya pendatang) berjualan souvenir murah menggelar lapaknya di pelataran gereja (sebelum akhirnya petugas datang dan mereka mebubarkan diri masing-masing… tidak jauh beda dengan tempat wisata di Indonesia hoho…).

DSC_0453

IMG_0683
Paris from above

Ada kejadian kecil di sini yang membuat perjalanan selanjutnya jadi agak ‘garing krik krik’. Jadi saat kami hendak menuju next destination, ada beberapa orang kulit hitam menawarkan seperti gelang pada kami, yang lansung saya tolak. Tetapi ada salah satu teman kami yang sepertinya ‘terjebak’ dan langsung dikerumuni orang-orang berkulit hitam lainnya. Saya dan yang lain meneriaki teman saya itu untuk langsung lari saja dan pergi dari situ. Butuh waktu beberapa saat hingga akhirnya teman saya yang ‘terjebak’ tadi meloloskan diri. Mood kami untuk menikmati Paris pun berubah seketika. Kejadian ini membuat kami jadi harus selalu was-was setiap ada orang asing yang menawarkan sesuatu. Ada juga salah satu teman yang terlihat sangat takut apabila berdekatan dengan orang kulit hitam hihi… Paris is not that save for Asian people like us… *lah, jadi rasis gini deh. Memang suasana kotanya tidak begitu damai saat itu. Banyak demonstrasi dan polisi bersenjata lengkap lalu lalang di jalanan. Tetapi masih banyak orang baik di sana kok. Ceritanya ada beberapa orang termasuk seorang polisi yang menyapa kami dengan Assalamualaikum dan seorang bapak-bapak bertanya kami dari mana. Tahu kami dari Indonesia, bapak-bapak tersebut dengan ramah memberitahukan rute metro ke destinasi selanjutnya.

Lanjut…

Next, karena kami pikir waktunya tidak cukup gara-gara metro sempat berhenti di tengah rute akibat ada line yang ditutup, skip for Notre Dame dan langsung ke Louvre Museum (Palais Royal Louvre). Apalagi yang bisa dilakukan selain foto-foto dan melihat langsung museum yang terkenal seantero jagat karena ada lukisan Monalisa asli di dalamnya. Kami tidak masuk ke museum karena antrian yang luar biasa panjang dan waktu terbatas.

IMG_0688
di depan museum
IMG_0689
Lagi asik ngeliatin foto
IMG_0691
To the Pyramid
IMG_0692
Inside the museum – liat dari luar aja sih

IMG_0693IMG_0697IMG_0700

IMG_3240
credit photo: Ojan

Di Louvre ini kami bertemu dengan banyak sekali pendatang dari Afrika yang menawarkan souvenir murah dan sebagian besar bisa berbagai macam bahasa termasuk Indonesia. Sepertinya memang keterampilan berbahasa sangat diperlukan untuk menawarkan barang mereka kepada pengunjung di sini yang memang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia, dan sangat terlihat banyak turis dari Indonesia yang pernah singgah di sini…

Dari Louvre kami berjalan kaki menyusuri sungai Seine menuju ke the most anticipated place, apa lagi kalu bukan menara Eiffle. Tetapi karena ternyata jaraknya cukup jauh bila ditempuh dengan jalan kaki, kami putuskan naik metro ke arah Tour Eiffle 🙂

DSC_0455
Sungai Seine
DSC_0456
Sungai Seine
DSC_0459
Ga mungkin sempet naik

Sayang sekali karena menghemat battery kamera, saya tidak banyak mengambil foto setelah dari Louvre (foto sungai Seine di atas saya ambil dengan kamera HP yang tidak secanggih DSLR saya hihi). Anyway, sampai sini saya sudah cukup kelelahan dan kedinginan plus kurang tidur. Sebisa mungkin saya menutup mata selama di metro. Tetapi capeknya hilang sesaat setelah sampai di menara Eiffle. Sampai juga akhirnyaaaa..

Walaupun saat itu masih masuk musim dingin, turis yang datang ternyata banyak sekali. Sulit menemukan spot bagus untuk foto tanpa ada ‘noise’ orang seliweran. Dan pastinya sangat jelas terlihat yang sangat hobi berfoto di sana adalah orang-orang dari Asia hohoho…

 IMG_0745

20150314_152317
Evan lagi ngilang nyari toilet
IMG_3289
Credit foto : Ojan

Sampai sini kaki dan mata saya sebenarnya sudah sangat protes kelelahan. Sebelum kembali lagi ke Eiffle malamnya, kami mencari makan di dekat Arc de Triomphe (lagi-lagi junk food) dan melihat-lihat sepanjang jalan pertokoan Champ Elysees. Ahh… akhirnya bisa menghangatkan diri dan rileks sejenak.

IMG_3326
Muka-muka super kecapekan jalan seharian (photo by Chandra)

Eiffel malam hari sangat bagus. Tetapi karena battery kamera saya habis, saya hanya menikmati saja pemandangan sinar laser dari menara Eiffle. Sampai akhirnya malam itu juga kami langsung menuju bandara untuk kembali ke Barcelona dengan penerbangan besok paginya (dengan kondisi kedinginan dan sangat kelelahan). Sayangnya, bandara Paris tidak sehangat Barcelona. Walaupun sudah mendekat ke heater tetap saja saya tidak bisa tidur karena kedinginan. Tetapi yang saya suka di Charles de Gaulle Airport Paris ini karena salah satu fasilitasnya ada mushola di lantai bawah dan petugasnya tidak akan membangunkan kami yang menginap di bandara pukul 4 pagi seperti di Barcelona 🙂

IMG_0750IMG_0765

Sampai di Barcelona, saya dan Sekar langsung pulang sedangkan para lelaki masih melanjutkan jalan-jalan di Barcelona sambil cari souvenir (what a power!!). Akibat dari perjalanan melelahkan ini kaki kanan saya yang memang sempat cedera sangat sakit untuk digerakkan. Setelah mandi jam 2 siang hari minggu itu, saya langsung tidur sampai besok paginya tanpa bangun sama sekali (selama lebih dari 14 jam) seperti orang pingsan.

Satu hal yang membuat nilai Paris ini jadi agak minus di mata saya adalah keadaan kotanya baik tempat wisata maupun stasiun metronya kotor dan berbau pesing dimana-mana. Bukan bermaksud menjelekkan, tetapi apa mungkin karena banyaknya pendatang dan memang saya melihat sendiri ada orang tiba-tiba pipis sembarangan di salah satu tiang penunjuk arah heuuu (tutup mataaa!!!)

Tambahan cerita >> Pada jadwal yang bersamaan, beberapa teman kantor ada yang ke Roma dan Berlin. Ini nih yang bikin saya ngiri karena bisa sampai Jerman, negara favorit saya di Piala Dunia hihi — dan saya hanya menitipkan foto hahaha (sedih…)

IMG-20150314-WA0000
Photo by Mas Arif yang ke Berlin-Germany…

Bandung

Pas kepingin bener bisa ngerasain autumn di negara 4 musim

Advertisements

Author:

Germany National Football Team supporter / K-Drama lover / Running and Yoga routine / RA fighter / RPG Programmer

2 thoughts on “Little bit taste of Europe – Flying to Paris

  1. Nice joerney. Syukur alhamdulillah kamu bisa kesana. Seperti itu jg cita2 dik Uning mbak Nisa. Semoga tercapai. Membaca ini…perasaan campur aduk..bangga dan terharu. Keep spirit mbak Nisa. Warm regard from your fams di Solo ya. Take care.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s